Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 05:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

berandalappung.com— Raja Basa, sebuah interaksi singkat di kasir restoran cepat saji Burger King kawasan Breinigsville, Pennsylvania, Amerika Serikat, mendadak bereskalasi menjadi isu global yang memicu perdebatan sengit seputar kebebasan berekspresi, batasan profesionalisme, hingga sensitivitas geopolitik di ruang publik.

Peristiwa ini bermula ketika Rami Feinstein, seorang musisi keturunan Israel-Amerika, bertransaksi di gerai tersebut.

Di sana, ia dilayani oleh Arianna Hamilton, seorang karyawan setempat. Menurut laporan Roya News, interaksi verbal terjadi saat Hamilton memperhatikan atribut Bintang Daud yang dikenakan Feinstein. Setelah mengetahui latar belakang Feinstein yang berasal dari Israel, Hamilton melontarkan seruan “Free Palestine” (Bebaskan Palestina).

Merasa tak nyaman, Feinstein lantas merekam interaksi tersebut, meminta pengembalian dana (refund), dan meninggalkan lokasi.

Rekaman video itu diunggah ke media sosial dan langsung menyita perhatian publik internasional secara masif.

Merespons gelombang kritik yang mengancam reputasi korporasi, manajemen pusat Burger King melayangkan permohonan maaf terbuka dan menegaskan komitmen mereka terhadap lingkungan kerja yang netral serta bebas inkriminasi.

“Kami sangat menyesal mendengar pengalaman yang Anda alami. Burger King adalah tempat di mana semua orang harus merasa disambut, dihormati, dan bebas dari diskriminasi.

Kami tidak menoleransi antisemitisme, kebencian, atau bentuk diskriminasi apa pun. Kami sedang bekerja sama dengan pemilik waralaba yang mengoperasikan restoran ini untuk menangani situasi tersebut,” bunyi pernyataan resmi manajemen Burger King.

Keputusan tegas diambil tak lama kemudian: pemegang waralaba memberhentikan Hamilton atas tuduhan tindakan diskriminatif. Namun, langkah pemecatan ini justru memantik dikotomi tajam di ruang siber.

Baca Juga :  Prabowo Restui Rahmat Mirzani Djausal Cagub Lampung

Gelombang simpati dari warganet mengalir deras membela Hamilton, menilai respons korporasi terlalu berlebihan terhadap ekspresi politik personal.

Melalui akun Instagram pribadinya, Hamilton memberikan klarifikasi untuk meluruskan narasi yang beredar. Ia membantah telah memulakan konfrontasi atau menanyakan latar belakang kebangsaan Feinstein secara tendensius sejak awal.

“Pria itu sebenarnya datang dengan sikap yang sangat agresif. Saya tidak bertanya dari negara mana ia berasal. Maksud saya, dari daerah mana di kawasan Lehigh Valley. Kami biasa kedatangan orang dari berbagai tempat seperti New York atau New Jersey,” tutur Hamilton.

Ia menjelaskan bahwa percakapan awalnya berjalan biasa ketika Feinstein mengaku berasal dari New Jersey. Situasi berubah ketika Feinstein sengaja mengeluarkan kalung Bintang Daud dari balik pakaiannya dan menegaskan identitas keisraelannya.

Baca Juga :  Setelah Bikin Gaduh, Hijrah "Plt Ketua APDESI Lampung" Di Duga  Lempar Tanggung Jawab

“Hal itulah yang memicu saya untuk mengatakan ‘Bebaskan Palestina’. Tentu saja saya tidak akan mundur dari ucapan tersebut ketika dia mengarahkan kamera ke wajah saya.

Itu bukan kepribadian saya. Saya akan selalu menyuarakan pandangan saya dan tidak akan pernah takut menyampaikan apa yang saya pikirkan,” tegasnya, sembari menambahkan bahwa ucapannya murni bentuk solidaritas, bukan kebencian etnis atau agama.

Dampak dari pemecatan ini membawa babak baru. Hamilton membuka kampanye penggalangan dana publik di platform GoFundMe bertajuk “Support Arianna After Job Loss for Free Speech”.

Langkah ini dilakukan untuk menopang kebutuhan dasar hidupnya pasca-kehilangan mata pencaharian, seperti biaya sewa hunian dan logistik harian.

Kampanye solidaritas tersebut direspons secara signifikan oleh publik, hingga berhasil mengumpulkan dana lebih dari 40 ribu dolar AS (setara Rp717 juta).

Kasus ini memperlihatkan betapa tipisnya batas antara ruang privat, etika pelayanan korporasi, dan keberanian menyuarakan pandangan politik pribadi di tengah polarisasi global yang belum mereda.(***)

Editor : Alex Jefri

Sumber Berita: Kompastuntas.com

Berita Terkait

PANGDAM XXI/RI IMBAU WARGA TETAP TENANG, SIAGA PASUKAN HADAPI AKTIVITAS ANAK KRAKATAU
Pengurus Bundokanduang Minangkabau Lampung 2026–2030 Resmi Dikukuhkan
Angin Berubah, Debu Anak Krakatau Bergeser Ke Banten Jabar, Aprozi Minta Posko 1X24 Jam
RDUDAM Gelar Wabinar P2KB
Pemprov Lampung Raih Penghargaan Inovasi Pendidikan dari detik.com
Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Desak Aparat Penegak Hukum Berantas Peredaran Senpi Ilegal di Lampung Utara
Bengkel Sastra: Ari Pahala Jelaskan Teori Eliot Tentang Puisi yang Baik
Angkasa Pura Bandara Radin Inten II Dukung Penuh HPN dan Porwanas 2027 di Lampung
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 06:05 WIB

PANGDAM XXI/RI IMBAU WARGA TETAP TENANG, SIAGA PASUKAN HADAPI AKTIVITAS ANAK KRAKATAU

Senin, 7 September 2026 - 05:58 WIB

Pengurus Bundokanduang Minangkabau Lampung 2026–2030 Resmi Dikukuhkan

Senin, 7 September 2026 - 05:54 WIB

Angin Berubah, Debu Anak Krakatau Bergeser Ke Banten Jabar, Aprozi Minta Posko 1X24 Jam

Selasa, 1 September 2026 - 06:05 WIB

RDUDAM Gelar Wabinar P2KB

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 09:52 WIB

Pemprov Lampung Raih Penghargaan Inovasi Pendidikan dari detik.com

Berita Terbaru

Screenshot

Pemerintahan

Survey Rakata : Mirza-Jihan Raih Kepuasan Publik Diatas 80 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:10 WIB

Pendidikan

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:40 WIB

Politik

Saran Ringan untuk UU Politik 2029, Dari Anas Urbaningrum

Senin, 14 Sep 2026 - 14:45 WIB

Hukum

Ada Apa? Welly Mendadak Cabut Praperadilan

Jumat, 11 Sep 2026 - 10:18 WIB