Belajar dari Tanjung Verde
berabdalappung.com- Raja Basa, Sepakbola memang gudangnya kejutan. Kata “kejutan” sendiri artinya sesuatu yang datang tiba-tiba, tidak terduga, dan pasti bikin orang terperangah.
Dari sekian banyak kejutan, Tanjung Verde –menurut pendapat sy adalah kejutan yg _top ranking_.
Sebagai sebuah negara kecil di Samudera Atlantik, Tanjung Verde atau Cape Verde, berhasil meneruskan debutnya di babak 32 besar piala dunia 2025 melawan raksasa sepakbola dunia: Argentina. Dan hasilnya sungguh membuat publik terkejut. Argentina –sang maestro sepakbola sejagat– seakan dibuat frustasi dan tak berdaya.
Nama-nama besar seperti Lionel Messi dan Emiliano Martínez dibuat seperti bapak-bapak menghadapi Gen Alfa. Pusing. Argentina bikin gol, dibales gol. Bikin gola lagi, dibales lagi. Gimana gak frustasi?
Beruntung di ujung babak tambahan waktu, Argentina akhirnya berhasil menang 3-2 atas Tanjung Verde.
Namun demikian, kemunculan Tanung Verde yg “tiba-tiba” di dunia sepakbola mengingatkan kita akan kisah timnas Yunani yang menjuarai Piala Eropa 2004.
Yunani saat itu juga “menghebohkan” dunia dgn capaiannya yg luar biasa. Namun keberhasilan itu tidak didukung dgn _sustainability_. Sehingga Yunani dari yang tiba-tiba bersinar, tiba-tiba juga redup. Semoga Tanjung Verde tidak mengalami nasib sama.
Dari laga raksasa sepakbola Argentina versus debutan Tanjung Verde di atas, setidaknya terdapat 3 pelajaran pendidikan yang bisa dipetik yaitu
1.Teori Pertumbuhan – _Growth Mindset_
Tanjung Verde mungkin kalah dari sisi nama besar, tapi tidak kalah mental.
Mereka berani bermain terbuka melawan Argentina. Itu _growth mindset_: berani menghadapi tantangan di atas levelnya, karena percaya kompetensi bisa tumbuh lewat proses.
Dalam dunia pendidikan pun berlaku demikian : Anak dari sekolah kecil di daerah berhak bermimpi berhadapan dengan “Argentina”-nya ujian nasional atau olimpiade.
Yang penting bukan takut kalah, tapi berani tampil dan belajar.
2.Nilai Proses di Atas Hasil Sesaat
Gol dibalas gol. Itu menunjukkan Tanjung Verde punya proses latihan, taktik, dan keberanian. Mereka tidak sekadar “beruntung” tapi berproses.
Selama ini, Pendidikan kita sering terjebak mengejar hasil, nilai dan ranking serta kelulusan semata. Padahal yang menentukan keberlanjutan adalah proses: kurikulum yang matang, guru yang kompeten, dan pembinaan karakter yang penuh nilai. Seperti Yunani tahun 2004, sesuatu hasil yang cepat tanpa proses yang kuat akan cepat pula padam.
3.Pendidikan Karakter: Sportivitas dan Rendah Hati.
Argentina menang, tapi mereka dituntut untuk menghormati lawan. Tanjung Verde kalah, tapi mereka pulang dengan kepala tegak karena memberi kejutan.
Inilah value dari pendidikan karakter. Menang tidak sombong, kalah tidak patah. Di sekolah, kita harus melatih anak untuk menjadi “Tanjung Verde”: berani, gigih, menghargai proses. Dan menjadi “Argentina”: tetap rendah hati meski sudah besar namanya.
Dari laga itu kita bisa belajar bahwa dunia pendidikan juga begitu. Ada sekolah besar dan elit namun ada juga sekolah baru tumbuh.
Ada guru senior, ada guru muda. Semua harus saling memacu agar mutu pendidikan bisa merangkak naik.
Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar juara atau rangking. Tapi murid yang _qualified_, punya mental bertanding, dan siap bersaing kapan pun, di mana pun. Salam olahraga. (***)
Dr. As’ad Muzzammil
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Lampung.
Penulis : Dr. As’ad Muzzammil Wakil Ketua Dewan Pendidikan Lampung.
Sumber Berita: alex jefri











