Melarat di Tumpukan Padi

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 Oktober 2021 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Grafiti.id/Ist

Ilustrasi: Grafiti.id/Ist

Entah mengapa suasana hati agak melow, semalam. Melow pada Indonesia. Duh, lebay nggak sih, kalau bilang begitu. Terserah deh mau disebut apa. Sebab, memang itu yang terasa.

Sekalian melankolis, saya pilih lagu “Tanah Airku”. Mengalunlah tembang nan indah itu melalui gawai.

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Ulala…makin teraduk-aduk perasaan meresapi karya Ibu Sud itu. Tanpa disadari kenangan pun melayang ke masa kanak-kanak. Tak mau kehilangan momen, saya teruskan lamunan dengan mendengarkan lagu berikutnya, Rayuan Pulau Kelapa.

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Luar biasa indah karya komposer legendaris Ismail Marzuki ini. Sungguh mampu membuat jiwa meremang bangga pada Indonesia. Tapi juga sekaligus mengusik rasa prihatin. Lho, bagaimana mungkin merasa bangga sekaligus prihatin?

Perasaan prihatin itu menyelinap dari sisa membaca berita sebelumnya. Terbetik kabar utang Indonesia makin membengkak. Per akhir Agustus 2021 sudah menyentuh angka Rp 6.625,43 triliun.

Kalau saya yang bukan siapa-siapa ini saja merasa terusik dengan kabar itu, lalu bagaimana perasaan Ibu Sud dan Ismail Marzuki, bila keduanya tahu hal ini. Sangat mungkin mereka bakal terhenyak. Prihatin sejadi-jadinya. Atau boleh jadi kedua mendiang itu merasa menanggung dosa. Lantaran bersalah telah menyebar hoaks tentang kesuburan dan kemakmuran Indonesia melalui lagu Tanah Airku dan Rayuan Pulau Kelapa. Tapi pada kenyataannya seisi bangsa ini terjerat pinjaman riba. Tak berkesudahan.

Baca Juga :  Polisi Mental Miskin Vs Polisi Mental Kaya, Semoga Bukan Kejadian Di Indonesia

Ow…jangan khawatir Ibu Sud dan Bapak Ismail Marzuki, Bapak-Ibu tidak berbohong, kok. Indonesia memang seistimewa seperti yang digambarkan melalui lagu-lagu itu. Sejatinya Indonesia memang kaya raya.

Simak deh data yang dirilis Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan. Disebutkan, harta karun yang bersemayam di lautan Indonesia diperkirakan mencapai US$ 1.338 miliar atau sekitar Rp 19.133 triliun (asumsi kurs Rp 14.300) per tahun. Hanya dengan menggarap potensi ini saja Indonesia bakal sanggup melunasi utang. Malah dapat susukan. Cuma lewat laut! jadi sekali lagi Ibu Sud dan Bapak Ismail Marzuki tak perlu merasa susah hati di sana.

Masih belum yakin kalau Indonesia ini sesungguhnya tajir melintir? silakan simak data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tertera di dalamnya Indonesia punya sumber daya batu bara 148,7 miliar ton dan cadangan 39,56 miliar ton.

Baca Juga :  Reformasi yang Mengukuhkan Status Quo

Tambah lagi kekayaan nikelnya. Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Bahkan disebut-sebut memiliki cadangan logam nikel sebesar 72 juta ton. Jumlah tersebut setara 52 persen dari total cadangan nikel dunia.

Belum cukup takjub dengan harta karun yang dikandung Ibu Pertiwi? Tengok juga data selanjutnya. Indonesia ternyata memiliki cadangan logam tembaga sebanyak 28 juta ton atau 3 persen dari total cadangan tembaga dunia.

Lalu ada juga cadangan timah. Bukan kaleng-kaleng, potensi timah Indonesia merupakan yang terbesar ke-2 di dunia. Cadangannya setara 17 persen dari total cadangan timah dunia.

Sudah ah, jangan terlalu banyak disodorkan data, nanti gumoh. Muntah, mirip anak bayi yang tersedak ASI mamanya.

Oh iya, kalau pun Ibu Sud dan Bapak Ismail Marzuki masih berkenan ‘memikirkan’ nasib Tanah Air, akan sangat bagus kalau Bapak dan Ibu mendoakan, biar anak bangsa segera bangun dari tidur nyenyaknya yang panjang. Karena, kendati harta karun melimpah, tapi yang memetik banyak nikmat justru negara lain. Indonesianya masih begini-begini aja. Lebih banyak “gigit jari”. Lantaran cenderung memilih langkah menjual ‘tanah air’ alias berdagang komoditas mentah. Kita memang kaya, tapi miskin mental. Bikin Miris!. (*)

Berita Terkait

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum
Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal
“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”
Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah
KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H
Reformasi yang Mengukuhkan Status Quo
Kedai Warta Kopi Pamit, Sebuah Ruang Publik yang Menutup Pintu
“Kantor Sudut” di Stasiun KAI Tanjung Karang Catatan Rutin Seorang Pak Pulan
Berita ini 66 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 10:16 WIB

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum

Sabtu, 4 April 2026 - 11:55 WIB

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Selasa, 31 Maret 2026 - 08:06 WIB

“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:03 WIB

Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:55 WIB

KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Kekerasan di EPA Memalukan, Sikambara Minta Sanksi Tegas

Senin, 20 Apr 2026 - 08:24 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com